
Gubug Mang Engking ; Jadi Populer Berkat Udang Galah
Belasan gubug bambu di tengah hamparan kolam ikan dan udang menjadi daya tarik sendiri bagi warung makan Mang Engking di desa Sendangrejo, Minggir, Sleman. Di lahan sekitar lima hektar itu, berdiri 15 gubug bambu dengan berbagai tipe. Gubug menggunakan tiang bambu petung dan apus dengan atap ilalang itu bisa bertahan sampai lima tahunan. “Saya mengelola warung ini baru empat tahun. Tapi budidaya tambak udang galah sudah saya rintis sejak tahun 1997,” kata Engking Sodikin yang akrab dipanggil Mang Engking.
Bahkan ada beberapa gubug bambu yang sebagian lantainya terbuka sebagai tempat kaki pengunjung, tidak bisa untuk duduk bersila. Gubug yang didesain orang Jerman itu banyak diminati wisatawan mancanegara.. “Ternyata dengan kaki yang bisa lepas ke bawah makannya bisa asyik, dibanding jika duduk bersila,” kata Mang Engking yang saat dijumpai HandiCRAFT Indonesia.
Bangunan gubug ada yang diperuntukkan 10 orang, bahkan bisa untuk keperluan pesta atau seminar, berkapasitas 200 orang. Dengan desain sedemikian rupa, gubuk-gubuk yang lantai dan dindingnya dari bambuitu, lebih terasa nyaman. Dulu ada beberapa kerajinan yang ditempatkan di salah satu sudut gubug, tetapi karena kebanyakan ke sini untuk makan, jadinya kurang dilirik!” ujar ayah dua putra itu.
Mang Engking yang asli Tasikmalaya, jauh sebelumnya memang berprofesi sebagai petani tambak udang galah. Sejak Ketika hijrah ke Yogya tahun 1996, ia menemukan lokasi sekitar satu hektar di Sendangrejo, dan meneruskan usahanya. Awalnya ia memang hanya menjual udang mentahan, tetapi berkat saran beberapa pihak, dicobalah mendirikan gubung-gubug dan sekaligus membuka warung. Dengan pelanggan awal kiriman trevel-travel biro, akhirnya Mang Engking semakin dikenal luas. Warungnya pun kian rami sebagai lokasi wisata kuliner, terutama pada hari-hari libur.
Kini, setelah berjalan empat tahun, lahan pun sudah berkembang menjadi lima hektar, dengan kolam-kolam udang sebanyak 30 buah. “Kebanyakan yang datang ke sini memilih menu udang dan kepiting. Ikan lain jenis gurameh dan greskap jarang disentuh. Sebenarnya masakan kami biasa saja, dengan bumbu tradisional. Mungkin karena udangnya fress diambil langsung dari kolam, rasanya berbeda. Diberi garam saja sudah enak, apalagi diberi bumbu, akan lebih nyus!” papar Mang Engking berkepanjangan.
Menu masakan udang satu kg matang berkisar Rp 100.000,- berisi sekitar 15-30 ekor. Dikatakannya, Sultan Hamengku Buwono X dan GKR Hemas bersama keluarga pun sering dhahar di warungnya. Dari kalangan artis, yang pernah mencicipi semisal Nurul Arifin dan Robby Sugara. Usaha Mang Engking ternyata melebar ke berbagai tempat. Di Yogya sendiri ada di Jl. Dongkelan dan Jl. Kaliurang, khusus bakmi. Belum lagi di Jakarta, Surabaya, Semarang, dan sebentar lagi akan disusul Solo.
Untuk memenuhi kebutuhan, setiap minggunya Mang Engking menghabiskan sekitar empat kuintal udang galah segar. Jumlah tersbut ‘diambilnya’ dari Jawa Barat, dengan harga sekitar Rp 50.000,-/kg. “Mengandalkan dari kolam Sendangrejo, belum mencukupi” ujarnya lagi.■ teguh ra / foto: affan
Bahkan ada beberapa gubug bambu yang sebagian lantainya terbuka sebagai tempat kaki pengunjung, tidak bisa untuk duduk bersila. Gubug yang didesain orang Jerman itu banyak diminati wisatawan mancanegara.. “Ternyata dengan kaki yang bisa lepas ke bawah makannya bisa asyik, dibanding jika duduk bersila,” kata Mang Engking yang saat dijumpai HandiCRAFT Indonesia.
Bangunan gubug ada yang diperuntukkan 10 orang, bahkan bisa untuk keperluan pesta atau seminar, berkapasitas 200 orang. Dengan desain sedemikian rupa, gubuk-gubuk yang lantai dan dindingnya dari bambuitu, lebih terasa nyaman. Dulu ada beberapa kerajinan yang ditempatkan di salah satu sudut gubug, tetapi karena kebanyakan ke sini untuk makan, jadinya kurang dilirik!” ujar ayah dua putra itu.
Mang Engking yang asli Tasikmalaya, jauh sebelumnya memang berprofesi sebagai petani tambak udang galah. Sejak Ketika hijrah ke Yogya tahun 1996, ia menemukan lokasi sekitar satu hektar di Sendangrejo, dan meneruskan usahanya. Awalnya ia memang hanya menjual udang mentahan, tetapi berkat saran beberapa pihak, dicobalah mendirikan gubung-gubug dan sekaligus membuka warung. Dengan pelanggan awal kiriman trevel-travel biro, akhirnya Mang Engking semakin dikenal luas. Warungnya pun kian rami sebagai lokasi wisata kuliner, terutama pada hari-hari libur.
Kini, setelah berjalan empat tahun, lahan pun sudah berkembang menjadi lima hektar, dengan kolam-kolam udang sebanyak 30 buah. “Kebanyakan yang datang ke sini memilih menu udang dan kepiting. Ikan lain jenis gurameh dan greskap jarang disentuh. Sebenarnya masakan kami biasa saja, dengan bumbu tradisional. Mungkin karena udangnya fress diambil langsung dari kolam, rasanya berbeda. Diberi garam saja sudah enak, apalagi diberi bumbu, akan lebih nyus!” papar Mang Engking berkepanjangan.
Menu masakan udang satu kg matang berkisar Rp 100.000,- berisi sekitar 15-30 ekor. Dikatakannya, Sultan Hamengku Buwono X dan GKR Hemas bersama keluarga pun sering dhahar di warungnya. Dari kalangan artis, yang pernah mencicipi semisal Nurul Arifin dan Robby Sugara. Usaha Mang Engking ternyata melebar ke berbagai tempat. Di Yogya sendiri ada di Jl. Dongkelan dan Jl. Kaliurang, khusus bakmi. Belum lagi di Jakarta, Surabaya, Semarang, dan sebentar lagi akan disusul Solo.
Untuk memenuhi kebutuhan, setiap minggunya Mang Engking menghabiskan sekitar empat kuintal udang galah segar. Jumlah tersbut ‘diambilnya’ dari Jawa Barat, dengan harga sekitar Rp 50.000,-/kg. “Mengandalkan dari kolam Sendangrejo, belum mencukupi” ujarnya lagi.■ teguh ra / foto: affan
Company Profile Terbaru
| | PT Mondrian Large t-shirt industry at Klaten (east of Jogja) with many brands and export products. |
| | Galeri Tempo Doeloe Orisinal art glass painting custom order accepted... |
| | Miror Gallery Antique teakwood furniture & craft |
| | Toko Bunga PAK PUSPO Puspo Florist Jogja. Melayani pembuatan aneka macam rangkaian bunga untuk aneka macam keperluan. |
| | Toko Bunga Pak Puspo Yogyakarta Toko Bunga Pak Puspo Yogyakarta |
| | Irawan Art Gallery Art Painting |
| | Unik Handicraft Unik Handicraft have been manufacturing ceramic and handicraft since 19... All product are made to order, and prices are negotiable. |
| | Lentiq Jewelry Jogja - Yogyakarta The jewelry in this Lentiq has been handcrafted for you. All jewelry is made of the finest sterling semiprecious and precious stones and beads available. |
| | Corelly Art Jewelry Yogyakarta Corelly is handicraft producer and exporter from Jogja / Yogyakarta, especially for stone jewelry. |
| | Majalah Handicraft Indonesia - Jogja Majalah Handicraft dan Furniture Indonesia - Jogja, terbit setiap bulan |
Jogja
Jumat, 14 September 2007
Djogdja Tempo Doeloe

Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar